SISTEM PENGELOLAAN AIR TERINTEGRASI

·

·

 SISTEM PENGELOLAAN AIR TERINTEGRASI

 

(INTEGRATED WATER MANAGEMENT SYSTEM)

Overview Fitur

Sistem Pengelolaan Air Terintegrasi merupakan solusi komprehensif yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air melalui pengolahan air hujan (rainwater harvesting) dan air limbah domestik (greywater treatment) dengan teknologi Biopori dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana. Fitur ini dirancang untuk menciptakan siklus air berkelanjutan di lingkungan kantor, mengurangi ketergantungan pada air bersih eksternal, sekaligus mencegah pencemaran lingkungan. Dalam kondisi perubahan iklim yang tidak menentu dan tekanan pada sumber air alam, fitur ini menjadi solusi urgent dan praktis untuk menjamin ketahanan air (water security) operasional kantor.

 

Landasan Ilmiah

Fitur ini dikembangkan berdasarkan prinsip hidrologi perkotaan yaitu mengelola limpasan air hujan di sumbernya (source control) untuk mengurangi banjir dan meningkatkan imbuhan air tanah, prinsip teknologi Biopori ialah lubang resapan yang meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, mencegah genangan, dan mengembalikan air tanah, teori IPAL Komunal, yang merupakan pengolahan air limbah domestik (dari toilet, wastafel) menjadi air yang dapat digunakan kembali (reuse) untuk penyiraman tanaman atau flushing toilet, dan dasar regulasi sesuai PP No. 26/2023 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Perda Malang yang mewajibkan pengelolaan air limbah dan resapan air hujan.

 

Manfaat yang Akan Diterima

  1. Manfaat bagi Kantor Telkom Gadang (Tingkat Site/Operasional):
  1. Mitigasi Risiko Gangguan Operasional:
    • Dampak Langsung: Ketersediaan air alternatif (hasil olahan) untuk kebutuhan non-potable (penyiraman taman, flushing toilet, cooling tower) mengurangi ketergantungan pada air PDAM/sumur bor.
    • Mencegah Downtime: Mencegah gangguan operasional akibat kekeringan atau gangguan pasokan air eksternal.

 

  1. Pengurangan Biaya Operasional:
    • Efisiensi Penggunaan Air: Pengurangan tagihan air PDAM hingga 30-50% melalui pemanfaatan air hujan dan air daur ulang.
    • Perencanaan yang Efisien: Investasi sekali pakai (capital expenditure) untuk pembuatan Biopori dan IPAL yang rendah perawatan (low maintenance).
  2. Peningkatan Keandalan Infrastruktur:
    • Perlindungan Fisik: Biopori mencegah genangan dan erosi tanah yang dapat merusak pondasi gedung dan jalur kabel bawah tanah.
  1. Manfaat bagi PT Telkom Indonesia (Tingkat Korporat/Strategis):
  1. Pemenuhan Regulasi & Pengurangan Risiko Hukum:
    • Compliance: Mematuhi PP No. 26/2023 dan Perda Malang yang mewajibkan pengelolaan air hujan dan air limbah.
    • Social License to Operate: Diakui sebagai perusahaan yang peduli lingkungan oleh masyarakat dan pemerintah.
  2. Peningkatan Reputasi Brand & ESG (Environmental, Social, Governance):
    • Nilai Tambah Hijau (Green Value): Kantor Telkom Gadang menjadi contoh kantor hijau (green office) yang mengutamakan sustainability.
    • Daya Tarik Investor: Meningkatkan skor ESG perusahaan yang sangat diperhitungkan investor global.
  3. Perencanaan dan Standardisasi Nasional:
    • Pilot Project yang Dapat Direplikasi: Model ini dapat diterapkan di seluruh kantor Telkom di Indonesia.
    • Melindungi Aset Strategis Nasional: Memastikan ketersediaan air untuk data center dan infrastruktur kritikal lainnya.
  4. Penguatan Hubungan dengan Stakeholder:
    • Pemerintah: Mitra strategis dalam mencapai target SDGs (Tujuan 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak).
    • Masyarakat: Memberikan edukasi dan contoh nyata pengelolaan air yang bertanggung jawab.

Ringkasan Manfaat dalam Bentuk Visual:

Tingkat Manfaat Operasional Manfaat Strategis
Kantor Telkom Gadang – Penghematan biaya air
– Ketersediaan air backup
– Pencegahan genangan
– Compliance regulasi
– Green office
PT Telkom Seluruhnya – Standardisasi sistem pengelolaan air – Peningkatan ESG score
– Replikasi model nasional

Investasi dalam fitur ini bukanlah sekadar biaya, melainkan investasi dalam ketahanan operasional, reputasi korporat, dan keberlanjutan bisnis.

Dasar Hukum & Regulasi

  • PP No. 26/2023 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Pengelolaan Sumber Daya Air (Pasal 8: Kewajiban membuat sumur resapan).
  • Perda Kota Malang tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik.
  • Permen LHK No. P.70/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

Parameter Input Data

  1. Parameter Kunci yang Diperlukan:
  1. Data curah hujan (dari BMKG atau stasiun lokal).
  2. Luas atap gedung dan area kedap air (untuk menghitung potensi air hujan).
  3. Jumlah pengguna dan volume air limbah domestik harian.
  4. Jenis tanah dan tingkat permeabilitasnya (untuk menentukan jumlah biopori).
  5. Kebutuhan air non-potable (penyiraman taman, flushing toilet, dll.).

 

 

 

 

Metode

Langkah-langkah

  1. Penentuan Faktor (Criteria):
    • Potensi air hujan = Curah hujan x Luas atap x Koefisien runoff.
    • Volume air limbah = Jumlah pengguna x Standar penggunaan air.
  2. Klasifikasi & Skoring:
    • Contoh: Area dengan genangan tinggi → Skor 5 (prioritas untuk biopori).
  3. Pemberian Bobot (Weighting):
    • Contoh: Ketersediaan lahan (30%), Kebutuhan air (40%), Biaya implementasi (30%).
  4. Deliniasi Zona:
    • Zona prioritas untuk biopori (area terbuka, taman).
    • Zona untuk IPAL (dekat sumber limbah: toilet, pantry).

Fitur pada Peta:

  • Overlay Zona: Prioritas implementasi biopori dan IPAL.
  • Lokasi Aset Telkom: Titik sumber air hujan (atap) dan sumber limbah.
  • Informasi Klik (Popup): Detail potensi air hujan, volume limbah, rekomendasi teknologi.
  • Legenda dan Metadata: Menjelaskan metode perhitungan.

SIMULASI

Lokasi: Kantor Telkom Gadang, Kec. Sukun, Kota Malang
Area Analisis: 15.500 m² (termasuk luas atap 2.000 m²)

  1. Parameter Input yang Digunakan:
Parameter Sumber Data Nilai/Deskripsi
Curah Hujan BMKG 2,050 mm/tahun
Luas Atap Site Plan 2,000 m²
Jumlah Pengguna Data HR 200 orang
Kebutuhan Air Non-Potable Survey 10 m³/hari
  1. Metodologi Perhitungan:
  • Metode: Volume air hujan = Curah hujan x Luas atap x 0.8 (koefisien).
  • Potensi Air Hujan: 2,050 mm/tahun x 2,000 m² x 0.8 = 3,280 m³/tahun.
  • Volume Air Limbah: 200 orang x 100 L/hari = 20 m³/hari (dapat diolah IPAL).
  1. Hasil Simulasi & Zonasi:
  • Zona Biopori: Area taman dan tanah terbuka → Direkomendasikan 50 lubang biopori.
  • Zona IPAL: Dekat toilet dan pantry → Direkomendasikan IPAL komunal kapasitas 5 m³/hari.
  • Potensi Penghematan Air>40% untuk kebutuhan non-potable.

Manfaat Langsung yang Dapat Diukur

  1. Peningkatan Kapasitas Resapan Air: Biopori meningkatkan resapan air hujan hingga 40%.
  2. Pengurangan Risiko Kekeringan: Ketersediaan air daur ulang untuk kebutuhan darurat.
  3. Efisiensi Biaya: Penghematan tagihan air hingga Rp 20-30 juta/tahun.
  4. Kepatuhan Regulasi: Memenuhi kewajiban pengelolaan air limbah dan resapan.
  5. Peningkatan Nilai Aset: Kantor yang berkelanjutan meningkatkan nilai properti.

Manfaat Tidak Langsung:

  • Pengurangan beban saluran drainase kota.
  • Kontribusi pada pelestarian air tanah.

Langkah Selanjutnya

  1. Validasi Lapangan: Survey lapangan untuk menentukan titik tepat biopori dan IPAL.
  2. Detailed Engineering Design (DED): Desain teknis IPAL dan pola penempatan biopori.
  3. Implementasi Bertahap: Dimulai dari pembuatan biopori, kemudian IPAL.
  4. Monitoring & Evaluasi: Pemantauan kualitas air hasil IPAL dan efektivitas biopori.

Simulasi ini membuktikan bahwa Sistem Pengelolaan Air Terintegrasi tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga menciptakan ketahanan air (water resilience) yang kritikal bagi keberlanjutan operasional Telkom.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *