KALKULATOR RISIKO BENCANA LINGKUNGAN

(ENVIRONMENTAL RISK CALCULATOR)
Overview Fitur
Kalkulator Risiko Bencana Lingkungan adalah alat analisis spasial yang dirancang untuk mengidentifikasi, mengukur, dan memetakan tingkat risiko bencana terkait degradasi lingkungan di sekitar Kantor Telkom Gadang. Fitur ini berfokus pada empat risiko utama: kekurangan air, rusaknya air tanah, banjir, dan tanah longsor yang dipicu oleh kerusakan sumber air, hutan, sungai, dan akumulasi sedimen. Dengan menggunakan pendekatan multi-criteria, kalkulator ini memberikan peta risiko detail yang menjadi dasar perencanaan mitigasi dan konservasi.
Landasan Ilmiah
Fitur ini dikembangkan berdasarkan teori hidrologi yaitu analisis siklus air dan dampak perubahan tutupan lahan terhadap ketersediaan air, teori geoteknik meliputi evaluasi stabilitas lereng dan potensi longsor berdasarkan jenis tanah, kemiringan, dan curah hujan, teori ekologi landscape, ialah hubungan antara degradasi hutan, sungai, dan dampaknya pada keseimbangan lingkungan, serta regulasi lingkungan: Mengacu pada UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No. 26/2023 tentang Sumber Daya Air, serta Perda Malang terkait pengelolaan DAS.
- Resiko Bencana
| Bencana | Faktor | Metode | Proses pengolahan | Output hasil/Deliverables |
| Banjir | Curah hujan tinggi, sistem drainase buruk, alih fungsi lahan | Analisis hidrologi-hidraulik, HEC-RAS, pemetaan DAS dan debit puncak | Data curah hujan, topografi, peta DAS, penggunaan lahan, citra satelit | Debit Puncak / Debit Maksimum SungaiTerdekat, Peta Limpasan Permukaan, Peta Potensi Genangan Banjir |
| Kekeringan | Curah hujan rendah, perubahan iklim, deforestasi | Satelit cuaca, analisis iklim, indeks kekeringan (SPI) | Analisis tren curah hujan, suhu, kelembaban tanah | Laporan dampak kekeringan, Peta sebaran kekeringan |
| Tanah longsor | Curah hujan tinggi, kontur tanah curam, deforestasi | Monitoring lereng, sensor pergerakan tanah, Analisis GIS | Analisis kemiringan lereng, jenis tanah, dan curah hujan | Laporan Mitigasi Longsor, Peta Zonasi Rawan Longsor, Peta tingkat risiko longsor |
| Pendangkalan Sungai & Sedimentasi | – Erosi hulu sungai- Aktivitas manusia (pembangunan, deforestasi)- Aliran permukaan tinggi |
Survey Lapangan Analisis debit air Pemodelan sedimentasi |
Pemodelan SWAT, Analisis curah hujan dan totoal suspended load (TSS), Analisisi debit sungai | Peta Erosi dan Hasil Sedimen, Total Sedimen tubuh air |
| Letusan Gunungapi | Aktivitas magma, tekanan gas | Pemetaan zona bahaya | Pengolahan citra satelit Monitoring sensor seismik dan gas |
Peta Risiko Bencana Gunungapi |
- Potensi Limpasan Air
|
Potensi |
Keterangan |
Metode |
Input dibutuhkan |
Proses Pengolahan |
Output Hasil |
|
Limpasan Permukaan (Regional)
|
Koefisien limpasan Rendah (3.0) :
70% hujan yang jatuh menjadi cadangan air tanah Koefisien limpasan sedang (0.3-0.5) : 30-50% hujan yang jatuh menjadi limpasan permukaan Koefisien limpasan Tinggi (0.5) : 70% hujan yang jatuh menjadi limpasan permukaan |
GIS/ Pemodelan SWAT
|
Data Curah Hujan Harian Peta Jenis Tanah Peta Kemiringan Lereng Peta Penggunaan Lahan |
Input Model Pemodelan/Perhitungan Survey Lapangan Validasi-Kalibrasi
|
Peta Potensi Limpasan Permukaan
|
| Batas Area Kajian | Batas Kajian Area bersifat multiskala Skala Regional (Batas Daerah Aliran Sungai)
Skala |
GIS/
Pemodelan SWAT |
Peta Jaringan Sungai Peta Kemiringan Lereng Peta Ketinggian Tempat | Batas DAS : Manual Delineation Batas Site : Agisoft | Peta Batas DAS Peta/denah kantor |
| Potensi Air tanah | Potensi Airtanah
dilihat dari potensi jumlah air hujan yang masuk ke dalam sistem air tanah / lapisan tanah (zona jenuh dan tidak jenuh) semakin rendah nilai limpasan > semakin tinggi potensi air hujan yang menjadi potensi airtanah |
GIS/ Pemod elan SWAT |
Data Curah Hujan Harian Peta Jenis Tanah
Peta Kemiringan Lereng Peta Penggunaan Lahan |
Input Model
Pemodelan/Perhitungan Survey Lapangan Validasi-Kalibrasi |
Peta Potensi |
- Skala Prioritas Lahan Konservasi
|
Name |
Keterangan |
Metode |
Input Dibutuhkan |
Proses pengolahan |
Output Hasil |
| Prioritas Lokasi Konservasi | Skala Prioritas 3
Lokasi dengan tingkat kekritisan sumber daya rendah dan rawan sedang Lokasi- lokasi yang perlu dilakukan program rehabilitas dan pelestarian sumberdaya
Skala Prioritas 2 Lokasi dengan tingkat kekritissan sumber daya sedang dan rawan sedang Lokasi- lokasi yang perlu dilakukan program rehabilitas dan pelestarian sumberdaya
Skala Prioritas 1 Lokasi dengan tingkat kekritissan sumber daya tinggi dan rawan bencana Lokasi- lokasi yang perlu dilakukan program rehabilitas dan pemulihan sumberdaya |
Analisis GIS | Aksesibilitas Lokasi Fungsi Kawasan KArakteristik Sosial ekonomi budaya masyarakat Kelas Kemiringan Lereng Ketersediaan Air
Status Lahan TIngkat Bahaya Erosi Tekanan Lahan Tingkat Kerusakan Lahan/Lahan Kritis |
AHP
Weighted Overlay |
· Peta Lokasi
· Prioritas Konservasi · Rencana Aksi Konservasi |
- Ipah dan Biopori
| Name | Keterangan | Metode | Input dibutuhkan | Output Hasil/Deliverables |
| Ipah | Instalasi Penampung Air Hujan | Analisis GIS | Peta dan Intensitas Curah Hujan, Peta dan Karakteristik Jenis Tanah | Jenis dna Jumlah Kebutuhan Biopori, Peta Tentatif Lokasi Pemasangan Biopori |
| Biopori | Sumur Resapan yang berfungsi menampung air hujan, mengalirkan ke dalam sisitem resapan airtanah | Analisis GIS | Peta Erosi dan Limpasan Permukaan, Peta dan Intensitas Curah Hujan, Peta dan Karakteristik Jenis Tanah | Jenis dna Jumlah Kebutuhan Biopori, Peta Tentatif Lokasi Pemasangan Biopori |
- Konservasi Hutan dan Mata Air
| Name | Keterangan | Metode | Input dibutuhkan | Proses Pengolahan | Deliverables |
| Konservasi Hutan | Konservasi hutan merupakan kegiatan pemulihan dan pelestarian kwasan hutan dengan melakukan reboisasi | Analisisi GIS untuk penentuan lokasi
Survey dan Wawancara untuk menentukan jenis/komoditas tanaman |
Lokasi Prioritas Konservasi, Status Kawasan Hutan | Analisis GIS, Deskriptif Analitik | Rekomendasi Program Konservasi Hutan |
| Konservasi Mata Air | Konservasi mataair merupakan tindakan pemulihan dna pelestarian pada daerah resapan mataair atau pada site lokasi mataair baik dilakukan dengan konservasi vegetatif maupun konservasi mekanik | Analisisi GIS untuk penentuan lokasi
Survey dan Wawancara untuk menentukan jenis/komoditas tanaman |
Lokasi Prioritas Konservasi, Status Mataair, Titik Lokasi Mataair | Analisis GIS, Deskriptif Analitik | Rekomendasi Program Konservasi Mataair |
MANFAAT YANG AKAN DITERIMA
- Manfaat bagi Kantor Telkom Gadang (Tingkat Site/Operasional):
- Mitigasi Risiko Gangguan Operasional:
- Dampak Langsung: Mencegah gangguan operasional akibat banjir atau longsor yang dapat merusak infrastruktur kabel bawah tanah dan akses jalan.
- Mencegah Downtime: Memastikan ketersediaan air tanah untuk sistem pendingin data center, mengurangi risiko overheating dan gangguan layanan.
- Pengurangan Biaya Operasional:
- Efisiensi Penggunaan Air: Optimasi penggunaan air melalui early warning system untuk kekeringan.
- Perencanaan yang Efisien: Alokasi anggaran mitigasi tepat sasaran berdasarkan peta risiko.
- Peningkatan Keandalan Infrastruktur:
- Perlindungan Fisik: Identifikasi area rawan longsor dan banjir untuk perlindungan infrastruktur kritis (menara, gardu listrik, data center).
Ii. Manfaat bagi PT Telkom Indonesia (Tingkat Korporat/Strategis):
- Pemenuhan Regulasi & Pengurangan Risiko Hukum:
- Compliance: Mematuhi UU Lingkungan Hidup dan Perda Malang terkait pengelolaan DAS.
- Social License to Operate: Meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pemerintah sebagai perusahaan yang bertanggung jawab.
- Peningkatan Reputasi Brand & ESG:
- Nilai Tambah Hijau (Green Value): Meningkatkan citra sebagai perusahaan yang peduli lingkungan.
- Daya Tarik Investor: Memenuhi kriteria ESG yang diminati investor global.
- Perencanaan dan Standardisasi Nasional:
- Pilot Project yang Dapat Direplikasi: Model ini dapat diterapkan di kantor regional lainnya.
- Melindungi Aset Strategis Nasional: Menjaga keandalan infrastruktur telekomunikasi nasional.
- Penguatan Hubungan dengan Stakeholder:
- Pemerintah: Kolaborasi dalam program konservasi DAS.
- Masyarakat: Edukasi dan partisipasi dalam menjaga lingkungan.
Ringkasan Manfaat dalam Bentuk Visual:
| Tingkat | Manfaat Operasional | Manfaat Strategis |
| Kantor Telkom Gadang | – Mitigasi gangguan operasional – Pengurangan biaya air – Perlindungan infrastruktur |
– Compliance regulasi – Peningkatan citra hijau |
| PT Telkom Seluruhnya | – Standardisasi mitigasi risiko | – Daya tarik investor ESG – Replikasi model nasional |
Dasar Hukum & Regulasi
- UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- PP No. 26/2023 tentang Sumber Daya Air.
- Perda Kota Malang No. X/20XX tentang Pengelolaan DAS dan Sumber Air.
Parameter Input Data
- Parameter Kunci yang Diperlukan:
- Data tutupan lahan (citra satelit).
- Data kemiringan lereng (DEM).
- Data curah hujan (BMKG).
- Data jenis tanah dan geologi.
- Data penggunaan air dan debit sungai.
- Data historis kejadian banjir/longsor.
Metode
Langkah-langkahnya:
- Penentuan Faktor (Criteria): Setiap parameter diubah menjadi layer peta.
- Klasifikasi & Skoring:
- Contoh: Tutupan lahan → Hutan (skor 1 = risiko rendah), Permukiman (skor 5 = risiko tinggi).
- Pemberian Bobot (Weighting):
- Contoh: Curah hujan (bobot 30%), Kemiringan lereng (bobot 25%).
- Deliniasi Zona: Hasil overlay menghasilkan peta risiko dengan tiga zona: Risiko Tinggi, Menengah, Rendah.
Fitur pada Peta:
- Overlay Zona: Warna merah (tinggi), kuning (menengah), hijau (rendah).
- Lokasi Aset Telkom: Titik data center, menara, gardu listrik.
- Titik Rawan: Mata air, sungai, area longsor.
- Informasi Klik (Popup): Detail risiko dan rekomendasi.
- Legenda dan Metadata: Sumber data dan metode analisis.
SIMULASI
Lokasi: Kantor Telkom Gadang, Kec. Sukun, Kota Malang
Area Analisis: 15.500 m²
- Parameter Input yang Digunakan:
| Parameter | Sumber Data | Nilai/Deskripsi |
| Tutupan Lahan | Sentinel-2 | 40% Bangunan, 20% Taman, 40% Aspal |
| Kemiringan Lereng | DEM BIG | 5-15% (landai hingga miring) |
| Curah Hujan | BMKG | 2,050 mm/tahun |
| Jenis Tanah | Peta Geologi | Latosol (resiko longsor rendah) |
- Metodologi Perhitungan:
- Metode: Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA).
- Parameter & Bobot: Curah hujan (30%), Kemiringan lereng (25%), Tutupan lahan (25%), Jenis tanah (20%).
- Skala Risiko: 1 (Rendah) – 5 (Tinggi).
- Hasil Simulasi & Zonasi:
- Zona Risiko Tinggi (20%): Area sekitar sungai dan lereng curam → Rekomendasi: revegetasi dan check dam.
- Zona Risiko Menengah (50%): Area parkir dan taman → Rekomendasi: biopori dan grass block.
- Zona Risiko Rendah (30%): Gedung utama → Rekomendasi: pemeliharaan drainase.
Manfaat Langsung yang Dapat Diukur
- Peningkatan Kapasitas Resapan Air: Pengurangan runoff air hujan hingga 30%.
- Pengurangan Risiko Kekeringan: Ketersediaan air tanah untuk cooling system data center.
- Efisiensi Biaya: Penghematan biaya air dan pemeliharaan infrastruktur.
- Kepatuhan Regulasi: Memenuhi standar ESG dan UU Lingkungan.
- Peningkatan Nilai Aset: Lingkungan kantor yang aman dan berkelanjutan.
Manfaat Tidak Langsung:
- Penguatan brand image sebagai perusahaan hijau.
- Partisipasi dalam pencapaian SDGs.
Langkah Selanjutnya
- Validasi Lapangan: Verifikasi data dengan survey lapangan.
- Detailed Engineering Design (DED): Desain teknis untuk infrastruktur mitigasi.
- Implementasi Bertahap: Dimulai dari zona risiko tinggi.
- Monitoring & Evaluasi: Pemantauan berkala kualitas air dan stabilitas lereng.
Simulasi ini membuktikan bahwa Kalkulator Risiko Bencana Lingkungan tidak hanya memetakan risiko, tetapi juga memberikan peta jalan mitigasi yang terukur dan berkelanjutan untuk menjaga operasional Kantor Telkom Gadang dan mendukung strategi korporat PT Telkom Indonesia.

Leave a Reply