Peta Sumberdaya Hutan

·

·

 “FORESTA” – Forest Resource Mapping & Analytics Platform

 “Smart Mapping for Sustainable Forestry”

Pemetaan sumber daya kehutanan terintegrasi yang mengubah data mentah menjadi actionable intelligence untuk mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan, transparan, dan efisien.

PERMASALAHAN YANG DIATASI (Pain Points)

· Data Tersebar dan Tidak Terintegrasi: Data inventarisasi, batas wilayah, dan tutupan lahan sering tersimpan di berbagai instansi dengan format berbeda.

· Monitoring yang Lambat: Deteksi deforestasi, degradasi, dan illegal logging sering terlambat karena mengandalkan laporan lapangan saja.

· Perencanaan yang Tidak Data-Driven: Pembangunan plots, penanaman, dan pemanenan kurang optimal karena tidak berdasarkan data spasial yang akurat.

· Kesulitan dalam Verifikasi dan Pelaporan: Proses verifikasi untuk skema seperti REDD+, FLEGT, atau SVLK membutuhkan data spasial yang dapat dipertanggungjawabkan.

· Konflik Tenurial: Batas kawasan hutan yang tidak jelas dapat memicu konflik dengan masyarakat.

 

FITUR INTI & MODUL FORESTA

Dashboard Peta Kawasan Hutan

· Peta Dasar Interaktif: Menampilkan batas kawasan hutan (HP, HKm, HPT, dll), batas administratif, dan unit manajemen.

· Analisis Tutupan Lahan: Klasifikasi otomatis tutupan lahan (Hutan Primer, Sekunder, Lahan Terbuka, Pertanian, dll) .

· Time-Series Analysis: Melacak perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu (dari 2000 hingga sekarang) untuk identifikasi titik deforestasi/degradasi.

 

 

Pemantauan Real-Time & Early Warning System

· Alert Deforestasi: Sistem notifikasi otomatis (email/WhatsApp) ketika terdeteksi penebangan/pembukaan lahan baru di area kritis, menggunakan data satelit radar (Sentinel-1) yang bisa menembus awan.

· Hotspot & Fire Risk Mapping: Integrasi data hotspot (MODIS/VIIRS) dan analisis risiko kebakaran berdasarkan kondisi cuaca, vegetasi, dan topografi.

Inventarisasi & Biodiversitas Digital

· Plot Sampling Digital: Tool untuk mendesain dan mengelola plot inventarisasi hutan di peta.

· Input Data Lapangan

· Peta Keanekaragaman Hayati: Visualisasi sebaran flora & fauna penting berdasarkan data inventarisasi.

Perencanaan & Manajemen Operasional

· Perencanaan Jalur Inventarisasi/PATROLI: Tool untuk merencanakan rute yang paling efisien.

· Zonasi Blok Kerja: Membagi kawasan hutan menjadi blok-blok untuk kegiatan silvikultur, pemanenan, atau restorasi.

· Analisis Kelerengan & Topografi: Untuk perencanaan jalan sarad dan area pemanenan yang aman.

4. TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN

· Remote Sensing & AI: Google Earth Engine API untuk analisis citra satelin skala besar, model CNN untuk klasifikasi citra.

· Mobile App: React Native atau Flutter untuk aplikasi survei lapangan.

 

5. DATA YANG DIINTEGRASIKAN

· Citra Satelit: Sentinel (2 & 1), Landsat, ALOS PALSAR, dan data komersial (jika anggaran memadai).

· Data Vektor: Batas Kawasan Hutan (KLHK), Administrasi (BIG), Jaringan Jalan.

· Data Lainnya: Data Curah Hujan (BMKG), Data Topografi (DEM SRTM/TerraSAR-X).

· Data Lapangan: Hasil inventarisasi dan patroli dari pengguna.

 

· Paket Dasar (10.000 ha) = Rp 50 juta/tahun. Paket Enterprise (>100.000 ha) = harga kustom.

· Project-Based Implementation: Untuk proyek pemetaan khusus (misal: pemetaan partisipatif di suatu Taman Nasional).

· Training & Konsultansi: Menyediakan pelatihan penggunaan platform dan konsultansi analisis data kehutanan.

Contoh Skenario Penggunaan oleh KLHK:

 

Sebagai kepala seksi di Ditjen PKTL, Ibu Sari membuka FORESTA. Di dashboard, ia langsung melihat alert merah di sebuah blok HP di Kalimantan. Platform menunjukkan bahwa dalam seminggu terakhir terjadi kehilangan tutupan seluas 5 hektar. Ia langsung meng-export peta lokasi dan laporan singkat PDF, lalu meneruskannya ke tim patroli di lapangan untuk diverifikasi dan ditindaklanjuti. Semua proses dari melihat alert hingga mengirim laporan hanya membutuhkan waktu 15 menit.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *